Persatuan Islam

From Ensiklopedia

Persatuan Islam (PERSIS) berdiri pada 1 Shafar 1342 H bertepatan dengan 12 September 1923 di Bandung (Anas dkk. 2015: 35). PERSIS adalah organisasi Islam beraliran modernis, yang didirikan sekelompok pedagang Islam yang berminat dalam kajian keagamaan. PERSIS merupakan organisasi yang pergerakannya mirip dengan Muhammadiyah. Gagasan pendiriannya berawal dari diskusi para pedagang keturunan Palembang yang tinggal di Bandung. Sebagai pedagang, mereka memiliki hubungan yang luas dengan daerah lain, sebagian juga pernah belajar di Mekkah. Para pedagang ini membaca majalah-majalah reformis seperti Al-Munir dari Padang dan Al-Manar dari Mesir dan mereka punya kontak dengan Ahmad Surkati, pendiri Al-Irsyad. Organisasi ini dipimpin oleh seorang guru agama reformis bernama Haji Mohamad Zamzam.

Di samping itu, bergabung pula Haji Mohamad Yunus, saudagar keturunan Palembang yang tinggal di Bandung, yang menjadi sponsor kegiatan PERSIS sehingga dapat mengembangkan dakwahnya (Noer 1985: 96). Tahun 1924 Ahmad Hassan, seorang keturunan India-Indonesia kelahiran Singapura, ikut bergabung bersama PERSIS. Ahmad Hassan adalah seorang reformis yang dikenal radikal dan rasional dalam menjelaskan agama serta memutuskan hukum-hukum Islam.

Persoalan kemunduran Islam menjadi landasan kuat berdirinya PERSIS. Kondisi umat Islam di Indonesia saat itu cenderung melakukan TBC (Takhayul, Bid’ah dan Khurafat), perbuatan ritual ibadah yang sinkretis, berbau mistis, dan menerima segala sesuatu apa adanya (Risalah 1990: 12). PERSIS mengarahkan ruh ijtihad dan jihad guna mencapai tujuan organisasi, yaitu persatuan pemikiran Islam, rasa Islam, usaha Islam, dan suara Islam (Anas dkk. 2015: 36).

Tujuan dari didirikannya PERSIS adalah memenuhi kehidupan beragama menurut ajaran Islam dalam arti yang sebenar-benarnya. Untuk mencapai tujuan tersebut PERSIS mendirikan sekolah-sekolah, poliklinik, rumah yatim, dan lembaga lain yang mendukung. Pada masa kolonial Belanda, PERSIS memiliki dua sisi perjuangan. Dari sisi internal mereka secara aktif menyerukan dan membersihkan Islam dari paham-paham tak berdasar Al-Qur’an dan Hadits. Dari eksternal, PERSIS menentang dan melawan setiap aliran dan gerakan anti-Islam. Maka dari itu aktivitas dan perjuangan PERSIS selalu menekankan pada upaya menyiarkan, menyebarkan, dan mengembangkan paham Al-Qur’an dan Sunnah (Anshary 1958: 6; Noer 1985: 95).

Di bidang pendidikan formal, PERSIS tahun 1930 mendirikan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar (HIS), Sekolah MULO (tahun 1931), dan Sekolah Guru (tahun 1932). Semuanya di Jawa Barat (Federspiel 2009: 19). Selain pendidikan umum, PERSIS juga mendirikan Pesantren. Pada tahun 1935 Pesantren Persatuan Islam didirikan di Bandung di bawah asuhan Hasan Hamid dan E. Abdurrahman. Pesantren ini menggelar dua jenjang pendidikan. Pesantren Kecil untuk anak-anak yang diselenggarakan sore hari, dan Pesantren Besar yang khusus disiapkan untuk remaja (Risalah 1962: 10-11).

Sepanjang perjalanannya PERSIS menerbitkan majalah Pembela Islam yang menjadi corong  gerakan puritanisasi Islam, terbit sejak tahun 1929-1933. Isi dari majalah Pembela Islam menyangkut urusan agama dan penekanan praktik ritual keagamaan yang benar. Selain itu, PERSIS juga mengedarkan majalah bahasa Indonesia berhuruf Jawi, bernama Al-Fatawa. Isinya adalah artikel-artikel khusus soal masalah keislaman, menjawab permasalahan umat dan mengangkat persoalan terkait kelompok non-muslim (Federspiel 2004: 121-123). Selain dua majalah tadi, PERSIS juga menerbitkan pengganti Pembela Islam, majalah Al-Lisan. Namun majalah ini berhenti beredar saat zaman pendudukan Jepang. Lalu kemudian ada majalah At-Taqwa yang terbit pada tahun 1930.

Dengan penerbitan majalah-majalah di atas, pengaruh PERSIS meluas ke seluruh Indonesia, meskipun cabang-cabang PERSIS hanya ada di Sumatera dan Kalimantan (Abdullah dkk. 2012: 341-342). PERSIS tidak memiliki anggota sebesar NU atau Muhammadiyah. Meski begitu, PERSIS memiliki pengaruh yang besar dalam reformasi pemikiran umat Islam Indonesia. Hal ini dikarenakan PERSIS dalam menyebarkan ide-ide pembaharuannya kerap menggunakan media cetak, seperti terbitan berkala, majalah, buku dan pamflet.

Kelahiran PERSIS sebagai organisasi Islam bercorak pembaharuan dipengaruhi oleh gerakan dan pemikiran Muhammad Abduh. PERSIS dalam proses kelahirannya menciptakan gerakan konfrontatif, secara kultural maupun intelektual, saat organisasi lain cenderung melestarikan praktik ritual keagamaan yang bernuansa sinkretik dengan cara berpikir tradisional. Kehadiran PERSIS untuk memberantas cara berpikir tersebut dan menggantinya dengan cara berpikir rasional dan puritan.

Penulis: Akhmad Yusuf
Instansi: Fakultas Adab Dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Prof. Dr. Jajat Burhanudin, M.A.


Referensi

Abdullah, Taufik (ed.)., Lapian, A.B., Starlita. Indonesia dalam Arus Sejarah, Jilid 5 Masa Pergerakan Kebangsaan, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2012.

Anas, Dadan Wildan. dkk., Anatomi Gerakan Dakwah Persatuan Islam, Amana Publishing, Tangerang Selatan. 2015.

Anshary, KHM. Isa. Manifest Perjuangan Persatuan Islam, Bandung: PP. Persatuan Islam, 1958.

Fauzan, Pepen Irfan., Fata, Ahmad Khoirul., dan Basit, Gun Gun Abdul. Pola Kaderisasi Gerakan Islam Puritan: Studi Kritis Atas Persatuan Islam, Millah: Jurnal Studi Agama, Vol. 19, No. 2, Februari 2020, p 247-278.

Fauzan, Pepen Irpan., dan Bachtiar, Tiar Anwar. Sejarah pemikiran dan Gerakan Politik Persis. Indonesia: Persis Press, 2019.

Federspiel, Howard M. Labirin Ideologi Muslim, Pencaharian dan Pergulatan Persis di Era Kemunculan Negara Indonesia, Jakarta: PT Serambi 2004.

Federspiel, Howard M. Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth Century Indonesia, Jakarta: Equinox Publishing, 2009.

Federspiel, Howard M. Islam and Ideology in The Emerging Indonesian State: The Persatuan Islam (Persis), 1923 to 1957. Boston: Brill, 2001.

Khaeruman, Badri. Persatuan Islam, Sejarah Pembaharuan Pemikiran, Bandung: FAPPI, 2010.

Noer, Deliar. Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES, 1985.

Persis, Qanun Asasi Persatuan Islam, Bandung: Sekretaris PP. Persis, 1968.

Persis, Tafsir Qanun Asasi dan Dakhili Persatuan Islam. Bandung: Pusat Pimpinan Persis, 1984.

Risalah, Bandung: Bagian Penyiaran PP. Persis, Mei 1990.

Rohman, M. Taufiq., dan Saebani, Beni Ahmad. Membangun Gerakan Inklusivisme Model Jamaah Persatuan Islam, Temali: Jurnal Pembangunan Sosial, Volume 1 Nomor 1 Tahun 2018, h. 58-72.

Wildan, Dadan., Suherli. Sejarah perjuangan Persis, 1923-1983. Bandung: Gema Syahida, 1995.

Zuhdi, Susanto., dan Nursam. ed. Kamus Sejarah Indonesia Jilid I, Nation Information, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.